Karya Musik Asyik Bertebaran Pada Ajang Go Ahead Challenge - Mysugarspace.com

Kamis, 05 Desember 2019

Karya Musik Asyik Bertebaran Pada Ajang Go Ahead Challenge

Musik

Berkarya tanpa pengetahuan dan pengakuan aganya kurang lengkap, dan untuk mendapatkan itu di Indonesia sendiri sudah banyak kompetisi yang digelar untuk mewadahi para seniman untuk menampilkan kebolehannya dalam berkesian.

Salah kompetisi lintas genre yang sedang naik daun sejak pertama kali digelar pada tahun 2014 lalu adalah Go Ahead Challenge. Bukan hanya karya musik epik yang dikompetisikan namun juga kesenian lain juga ikut di lombakan.

Pada gelaran GAC ini, para peserta diberikan ruang untuk mengeksplorasi kemampuan mereka dalam menciptakan nada juga lirik yang lebih liar. Dengan variasi genre yang ada, kompetisi ini memberikan kesempatan yang lebih besar bagi para emerging artist, dalam mengekspresikan diri lewat lagu buatannya.

Nantinya finalis dengan karya terbaik akan mendapatkan workshop eksklusif dari para juri. Tak hanya itu, karya mereka pun akan direkam dalam bentuk kompilasi yang akan diluncurkan lewat official music streaming apps, serta tampil di Soundrenaline.

Tahun 2019, Sejumlah inspirasi melalui karya seni dihadirkan dalam festival Soundrenaline 2019 di GWK, Bali. Tidak hanya penampilan musik yang mampu membuai para pengunjung, namun beberapa instalasi seni berskala besar tampak menyedot perhatian insan kreatif yang memadati venue.

Karya bertajuk Tapi Jadi Epik ‘The Monument’ besutan Uji ‘Hahan’ Handoko menjadi salah satu dari 17 kolaborator yang juga memberikan ruang untuk karya kolaborasi dari para finalis kompetisi kreatif Go Ahead Challenge 2019. Instalasi karya para finalis Go Ahead Challenge dipamerkan dalam 3 grup dari ketiga passion-field music, video fotografi dan visual art yang masing-masing berjudul ‘Siska’, ‘Kursi Perspektif’, dan ‘Deep Lymbic System’.

Setiap karya menyampaikan respons atas keraguan atau masalah yang timbul baik dari internal maupun eksternal. Kisah masing-masing dituangkan melalui berbagai teknik dan elemen berbeda seperti teknik kolase, hologram, instrumen musik, serta media lain yang mampu memberikan pengalaman berkesan bagi setiap pengunjung yang menikmati karya tersebut.

Dalam panggung yang sama, diumumkan tiga pemenang Go Ahead Challenge dari masing-masing passion-field. Mereka pun mendapatkan kesempatan eksplorasi karya di New York bersama Lucky Kuswandi, di Venice bersama Naufal Abshar, dan di Korea Selatan bersama Widi Puradiredja. Ditambah satu pemenang grup favorit hasil vote pengunjung pameran Go Ahead Challenge di area instalasi karya Tapi Jadi Epik.

Pada gelaran GAC tahun 2019 ini, semua karya yang masuk akan diseleksi oleh curator yang sudah berkompetensi dibidangnya masing masing, Mereka adalah Widi Puradiredja, drummer dari grup Maliq & D’essentials yang juga berperan aktif sebagai produser musik, Lucky Kuswandi – sutradara film “Galih & Ratna”, Naufal Abshar – seniman visual yang merupakan lulusan dari LASALLE College of the Arts dan Goldsmith University di London. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar